Kumpulan Cerpen Cinta Romantis 2012

 Cerpen
Kumpulan Cerpen Cinta Romantis 2012Kumpulan Cerpen Cinta Romantis 2012 | Cerpen Cinta 2012 ~ Cerpen Romantis Terbaru 2012. Nah buat sobar yang suka dengan cerita pendek tentang cinta romantis terbaru di tahun 2012, kali ini saya kan update beberapa kumpulan cerita pendek remaja tentang cinta yang romantis di blog saya ini. Ini dia info artikel Kumpulan Cerpen Cinta Romantis 2012 yang bisa sobat baca dengan lengkap.

Cerita+Cinta+Romantis Kumpulan Cerpen Cinta Romantis 2012

Bicara soal cinta memang takan pernah ada abisnya dan takan bosen-bosenya jika kita bicarakan, oleh karena itu sekarang saatnya saya posting tentang Kumpulan Cerpen Cinta Romantis 2012 yang terbaru untuk sobat tercinta semua. Okeh gak banyak omong dan gak lama-lama kita simak, baca, dan lihat aja beberapa koleksi saya tentang Cerpen Cinta Romantis 2012 dibawah ini.

Cinta Pertama Dan Terakhir

“rio .. turun nak” teriak bunda dari ruang tamu.
“ada apa sih bun ??” teriak rio dari dalam kamar.

“udah kamu buruan kesinii” jawab bunda.

Rio pun keluar kamar dengan malas-malasan, “kenapa sih bun ?? Rio tuh ca…” kata-kata rio terputus ketika melihat seorang gadis cantik tengah duduk di sofa. Saat dia melihat rio, dia melemparkan senyum yang sudah lama tak ku lihat. Seketika itu rasa cape rio hilang. Rio tersenyum.

“Ify??” kata rio tak percaya saat melihat seorang yang sangat rio sayangi. Seorang yang telah ditunggu rio selama 3tahun.

Cinta pertama rio.
“hy yo” sapa gadis itu yang ternyata bernama Ify

“bunda tinggal dulu ya Ify” kata bunda lalu pergi meninggalkan rio & ify.

Rio berlari menuju arah ify lalu memeluknya.
“Ifffyyyy kapan lo pulang?? gue kangeeen banget sm lo” 3tahun lalu Ify pergi ke singapura untuk berobat tapi rio juga tak tau apa penyakitnya.

“aduh..sakit yo” rintih ify kesakitan karena pelukan rio yang kencang,

“eh sorry fy, abisnya gue kangen banget sama lo” kata rio sambil tersenyum memandang wajah ify.

“haha biasa aja kali yo, gue tau kalo gue tuh ngangenin” kata ify sambil tertawa lepas.

“ih dasar ..” kata rio sambil mengacak acak rambutnya

Skip aja yaah…

+++++++++++ keesokan harinya

Rio mengajak ify pergi ke taman, tempat favorit mereka dulu.

“gue gak nyangka lo akan bawa gue kesini lagi” kata ify.

“emang kenapa ?? lo gak suka gue bawa ke sini??” tanya rio penuh curiga.

“eh bukan gitu, gue seneng kok, seneng banget malah” kata ify sambil tersenyum manis.

‘apa aku bisa terus sama kamu ? apa aku bisa terus liat senyum kamu itu fy?’ batin rio.

Rio memegang tangan ify dan rio bisa melihat raut wajahnya yang berubah menjadi kaget, perlahan wajahnya mulai memerah. Rio tersenyum kecil.

“3tahun gue nunggu fy, dan gue pengen ngomong sesuatu sama lo sebelum semua terlambat” rio melihat raut keheranan di wajah ify, orang yang rio sayang.

“ngomong apaan ??” tanya ify penasaran. Rio tersenyum lembut pada ify dan tetap memegang erat tangan ify.

“apa lo tau perasaan gue selama ini ke lo??

Ify menatapku tak mengerti. Rio pun melanjutkan perkataannya “gue sayang sama lo ify, sayaaaanggg banget..apa lo gatau ?? apa sikap gue selama ini belom bisa nunjukin bahwa gue sayang sama lo ??” kata rio mengungkapkan perasaannya pada ify. Ify semakin tak mengerti

“lo nembak gue ??” tanya ify penuh rasa heran. Rio tersenyum untuk menjawab pertanyaannya yang berarti ‘iya’

“hmm..gue pikir pikir dulu boleh ga ??” tanya ify.

“boleh, tapi jangan lama lama ya, ntar gue keburu pergi” kata rio.

“pergi ?? lo mau kemanaa ?? mau pindah ??” tanya ify dengan raut wajah sedih.

“bukan .. udah lo gak perlu tau. pokoknya gue tunggu jawaban dari lo” kata rio menjelaskan.

Suasana sepi beberapa saat, suara hp ify membuyarkan suasana sepi.

“halo ??” ify mengangkat telfonnya “yah, ntar dulu deh maa …. ih iyadeh aku pulang sekarang” ify menutup telfonnya.

Sambil mendesah kecil ify berkata “huh..anterin gue pulang yo” rio menatapnya heran.

“hoh kenapa ?? baru juga bentar” tanya rio pada ify.

“tapi gue disuruh pulang” kata ify dengan wajah cemberut

“oohh..iyadeh gue anter. tapi jangan lupa sama jawaban lo ya” kata rio mengingatkan ify.

“siap bos” kata ify sambil tertawa lepas.

‘apa aku bisa ninggalin kamu fy ?? apa aku bisa liat kamu sedih kalo aku ninggalin kamu nanti ??’ batin rio.

Rio menggandeng tangan ify menuju motornya dan mengantar ify pulang.

Skiipp..

++++++++++

Rio gelisah, sudah seminggu tak ada kabar dari ify. Seminggu setelah hari dimana rio menyatakan cinta padanya. Apa dia lupa sama rio ?? Atau dia kembali lagi ke singapura ?? Lalu bagaimana dengan jawaban dari pertanyaan rio ??

Tiba tiba kepala rio terasa pusing, darah segar menetes dari hidungnya. ‘Oh Tuhan mengapa penyakitku semakin parah sajaa..’ batin rio.

Rio membuka lagi map merah pemberian dokter tadi siang. Kangker otak stadium akhir.Rio melap hidungnya dengan tangan, lalu mengambil motor dan segera melaju kerumah ify.

Setelah rio sampai, rio melihat ramai sekali rumahnya. Rio turun dan mulai melangkah menuju halaman rumah ify. ‘kenapa semua menangis ?? ada apa ini’ pikir rio.

Saat aku memasuki rumah ify, betapa kagetnya rio melihat sosok seorang yang rio sayangi terbaring lemas tak bernyawa. Air mata rio pun mengalir membasahi pipinya.

“Iffyyyyyyy…”tangis rio pecah, rio tak bisa menahan air matanya lagi. Rio terpukul, rio tak bisa menerima kenyataan.

Dari dalam rio melihat acha, adik ify keluar menghampiri rio. Dia memberikan surat pada rio. Segera rio membuka surat itu, apa isi surat itu.

Dear rio,

Maafin gue ya, gue harus pergi ninggalin lo.Maaf selama ini gue ga cerita tentang penyakit gue ke lo, gue cuma ga pengen liat lo sedih.Maaf gue ga bisa habisin saat terakhir gue sama lo, gue yakin lo bisa tanpa gue.

Lo mau tau ga jawaban gue ?? gue mau yo, gue juga sayang sama lo. Udah lama gue nunggu lo nyatain cinta ke gue. Tapi kenapa baru sekarang ??

Gue sayang sama lo yo, tetep senyum ya pangerankuu ..

I love u forever

byee …

Tangis rio semakin kencang, rio berlari menuju jasad ify yang tergeletak lemas. Rio mengguncangkan tubuh ify, berharap ify bangun dan memelu rio “Ifyy,, bangun fyy, bangunnn”

Tak lama kemudian rio merasakan pusing yang teramat sangat, rio merasakan hidungnya dialiri oleh darah segar. Matanya perlahan tak dapat melihat apa apa dan kemudian gelap.

Rio melihat ify tersenyum padanya mengajak rio menuju suatu keabadian. Rio memegang tangannya, rio ikut dengan ify menuju surga.

Ify lah cinta pertama dan terakhir Rio. Cinta yg abadi.

==================================================

Demi Valentine

Domie tak pernah tahu bahwa selama ini Zetta begitu mengagumi dan mengharapkan cintanya.

“Apakah gue harus mencuri uang?” Sebersit pikiran kerap mengganggu pikiran Domie, setiap kali ia merasakan jalan buntu.

Satu-satunya barang berharga yang dimiliki cuma telepon genggam, hadiah ulang tahun dari ibunya setahun yang lalu. Jika tiba-tiba benda itu raib, tak cuma Ibu, tapi seisi rumah pasti akan geger mempermasalahkannya. Dan tipis harapan untuk bisa memiliki lagi sebuah ponsel.

“Jika anak-anak lagi istirahat, atau pas jam olahraga di lapangan, gue bisa menyelinap masuk ke kelas dan mencuri uang dari salah satu tas,” pikir Domie lagi. Ia tahu, banyak anak orang kaya yang ke sekolah bawa uang ratusan ribu. “Tapi kalo katahuan? Resikonya gede, bisa dikeluarin dari sekolah. Dan malunya itu!”

Domie tentu saja tak ingin berbuat konyol. Mencuri bukan cuma konyol, tapi dosa besar. Domie cepat-cepat menepis pikiran jahat itu. Uang memang harus ia dapatkan, tapi mesti dengan cara yang halal.

“Dom, elo liburan mau ke mana?” tanya Zetta, yang batal keluar dari kelas ketika dilihatnya Domie masih terpekur di bangkunya.

“Ke mana, ya? Nggak kepikiran sama sekali, Zet. Elo sendiri?” Domie balik bertanya pada teman sekelas sekaligus tetangga dekatnya itu. Zetta tinggal satu blok dengan Domie.

“Gue kayaknya harus ngungsi ke rumah Tante di Depok.”

“Emang kenapa? Takut banjir? Emang daerah kita banjir? Enggak, kan?”.

“Enggak, sih. Tapi kebetulan sebentar lagi rumah mau direnovasi. Nyokap pengen kamar anak-anak dipisah semua. Enak juga ngebayangin bakal punya kamar sendiri, jauh dari usilnya si Beng, adik gue itu. Tapi jadi repot selama rumah dibenahi. Mendingan gue ngungsi aja, daripada ntar terpaksa bantu-bantu jadi kuli bangunan. Hi hi hi….”

Domie cukup kenal dengan keluarga Zetta. Mereka keluarga paling kaya di Blok H. Sebersit pikiran muncul di benak Domie.

“Emang siapa yang bakal ngerenovasi, Zet?”

“Paling juga tetangga-tetangga kita sendiri. Atau orang-orang dari kampung belakang. Kayaknya sih bukan pekerjaan yang berat. Paling juga makan waktu seminggu, pas sama masa liburan kita. Jadi ntar, sepulang dari Depok, rumah udah beres lagi.”

“Bagus deh kalo gitu,” kata Domie.

“Bagus apanya?”

“Eh, elo jadi punya alasan untuk liburan ke Depok.”

“Elo mau juga?”

“Mau apa?”

“Liburan ke Depok.”

“Maksud elo?”

“Yaaa, siapa tahu elo mau nganter gue ke sana.”

Domie tercenung sebentar. “Kayaknya enggak deh, Zet.”

Zetta cemberut.

“Gue mendadak ada rencana baru buat ngisi liburan kita nanti.”

“Uh? Kok mendadak? Elo ngiri, ya?”

“Nggak! Bukan! Gue emang punya rencana.”

“Pasti elo mau nyusun karya tulis, buat diikutin Lomba Karya Ilmiah pertengahan tahun nanti, ya? Ya udah, kerjain aja!” Zetta mendengus kesal dan meninggalkan Domie. Domie cuma mengawasi cewek manis itu menghilang di luar kelas.

***.

Tante Zelda mengawasi cara kerja Domie yang cekatan. Meski bukan seorang tukang cat profesional, Domie terlihat bisa belajar dengan cepat. Ia menggerakkan kuas dengan benar, membuat hampir tak ada setitik pun cat yang menetes di lantai.

“Yang di kamar anak-anak warnanya pink, ya.” Tante Zelda mengingatkan. “Gudangnya tetep kuning aja, biar terang.”

“Iya, Tante.” Domie menjawab sambil terus menyapukan kuas cat ke tembok. Sebenarnya Domie agak gugup ditunggui Tante Zelda. Di rumah ini ada dua orang tukang batu dan tiga tenaga serabutan, tapi Tante Zelda lebih sering mengawasi dan menunggui Domie bekerja. Pasti karena Tante Zelda merasa paling dekat dengan Domie.

“Mungkin juga karena kasihan,” pikir Domie.

“Kamu nggak dimarahi orangtuamu, Dom?”

“Enggak, Tante. Bapak dan Ibu justru senang karena saya mau bekerja. Jadi kuli juga nggak apa-apa, yang penting halal.”

“Iya, ya. Lagian bagus juga kalo masih semuda kamu udah mau bekerja. Cuma, apa nggak sayang karenanya kamu jadi kehilangan acara liburan sekolah kamu?”

“Kebetulan saya nggak ada acara, Tante. Liburan cuma diam di rumah terus juga bosen. Eh, Zetta sama Beng kapan pulangnya?”

“Katanya sih Sabtu sore, dianter tantenya sendiri. Senin, kalian udah masuk sekolah lagi, kan?”

Domie mengangguk. Lalu, “Tapi janji ya, Tante. Tante nggak usah bilang-bilang ke Zetta bahwa saya jadi kuli di sini.”

“Lho, siapa bilang kamu jadi kuli? Kamu jadi tukang cat, dan nyatanya kamu bisa bekerja dengan baik. Kamu bakal nerima upah yang sepadan, karena hasil pekerjaanmu emang baik.”

“Iya, tapi tolong nggak usah bilang saya kerja di sini, ya….”

“Kenapa? Malu? Pekerjaan halal kok malu! Di negeri ini banyak yang sukanya mencuri uang rakyat tapi mereka pada nggak malu.”

“Kok Tante ngomongnya jadi ke mana-mana?” Domie menghentikan gerakan kuasnya. “Saya memang malu kalo ketahuan Zetta saya kerja di sini. Kalo aja Zetta nggak pergi liburan ke Depok, belum tentu saya sanggup meminta pekerjaan di rumah ini.”.

Tante Zelda menganguk-angguk paham. Ia bisa memaklumi jalan pikiran Domie. “Ya wis, kamu terusin kerjamu. Tante tinggal dulu untuk nengok kerjaan Pak Rodi, ya? Kalo udah waktunya makan siang, kamu harus makan. Ambil aja sendiri di meja makan dalam. Kamu nggak usah makan bareng mereka. Oke?”

“Oke, Tante!” Domie merasa senang karena ia sangat diistimewakan di rumah ini.

Domie meneruskan pekerjaannya dengan hati riang. Semangatnya kian tumbuh ketika ia membayangkan satu masalah akan segera dapat diselesaikannya. Kado Valentine yang akan dipersembahkannya buat Laudia bukan lagi impian kosong semata.

Sebuah arloji berbentuk hati seharga tiga rutus ribu rupiah itu adalah hadiah paling pas buat Laudia di hari Valentine. Hadiah yang harus ditebus dengan hasil kerja keras dan keringatnya sendiri.

Lagi-lagi Domie tersenyum.

***

Sebuah keributan terdengar dari luar.

“Gue bilang juga apa? Anak kecil maunya ikutan mulu! Damn! Sekarang apa coba? Baru juga tiga hari udah merengek-rengek minta pulang! Dasar!”

“Udah deh, sabar juga kenapa sih? Beng emang nggak mungkin bakal tahan terlalu lama kalo nggak dikelonin emaknya!” suara Tante Zelda.

Suara yang satunya lagi siapa?

“Tau begini mendingan dulu nggak usah ikut. Nyesel tujuh turunan deh gue ngajak Beng.”

Zetta?

“Ya udah, kamu boleh balik lagi ke Depok. Beng biar di rumah aja.”

“Huh, liburan tinggal tiga hari ngapain balik ke Depok! Tanggung!”

Ya, siapa lagi pemilik suara cempreng itu kalau bukan Zetta..

Zetta! Oh my God, itu memang Zetta!

“Mau ke mana, Sayang?”

“Nengokin calon kamar baru gue!”

“Eh, tunggu!!! Sini, kita makan dulu. Kamu belum makan, kan? Ini Mama bikin udang saus tiram kesukaanmu. Tunggu!!!”

“Makan aja sama Beng-Beng! Dasar anak mami!”

Terdengar suara kaleng cat kosong terjatuh. Mungkin Zetta sengaja menendangnya.

“Ya Allah!! Dom???!!! Ngapain elo di kamar gue?”

Domie tak berkutik, turun dari tangga segitiga dengan wajah pucat.

“Gue kerja di rumah elo, Zet.”

“Yaaah elo ini! Surprais banget, Dom. Tapi kenapa juga elo nggak bilang-bilang dari dulu. Kalo tau elo bakal ikutan kerja di sini, ngapain juga gue capek-capek ke Depok!” Zetta menatap Domie dengan takjub plus sesal. “Kan gue bisa bantu-bantu elo, Dom. Kita bisa ngobrol juga.”

“Gue… gue malu, Zet. Gue malu kalo ketahuan gue jadi kuli tukang cat di rumah elo sendiri.”

“Ngapain malu? Halal, kan? Daripada mencuri! Gue malah salut, karena elo mau kerja keras. Elo nggak cengeng, nggak jaim kayak teman kita yang lain.”

“Persis seperti ucapan ibunya tempo hari,” batin Domie. “Ibu dan anak sama-sama berhati mulia”

“Tapi tunggu dulu, Dom! Gue jadi curiga sekarang. Elo ini bukan dari keluarga yang pas-pasan. Ortu elo dua-duanya kerja. Bokap elo guru, nyokap elo pegawai negeri juga. Lalu buat apa elo memeras keringat kayak gini?” Zetta menatap Domie tanpa berkedip. Matanya penuh selidik. “Elo cuman mau nyari sensasi, atau …?”

“Gue kepepet, Zet.”

“Punya utang maksud elo?”

“Bukan! Gue kudu ngumpulin duit buat beli kado Valentine’s Day bentar lagi.”

Zetta makin melotot. “Hah? Jadi elo lagi mgumpulin duit buat beli kado Valentine?!”

“Iya,” jawab Domie datar. “Nggak mungkin juga kan gue nodong ortu buat beli hadiah untuk…”

“Pacar elo? Elo punya pacar, Dom?”

“Gue mau nembak, Zet. Kayaknya pas banget kalo manfaatin moment Hari Kasih Sayang nanti.”

“Siapa cewek sial yang bakalan elo tembak, Dom? Siapa perempuan malang itu?” Zetta berpaling menyembunyikan wajah pucatnya.

“Laudia.”

“Hah?! Laudia?”.

“Iya. Emang kenapa?”

“Anak kelas 11 B itu, kan?”

Domie mengangguk pasrah.

“Pantesan kalo gitu. Pantesan elo bela-belain kerja keras pas libur sekolah kayak gini. Nggak taunya elo emang punya tujuan yang menurut gue rada mustahil. Emang elo mau hadiahi apa?”

“Arloji hati, harganya tiga ratus ribu perak,” kata Domie apa adanya. Kepalang basah, ia harus mengatakan semuanya pada Zetta. Domie berharap, Zetta bisa memberinya masukan yang berguna.

“Aduh, romantisnya!” jerit Zetta dalam bisikan. Zetta berharap, Domie tidak mendengarnya.

“Menurut elo gimana, Zet? Cocok enggak? Kalo warnanya pink keliatan norak enggak, sih? Atau malah cocok sama nuansa Valentine?”

“Terserah elo aja!” Zetta keluar dari kamar yang pengap oleh bau cat itu dengan wajah tak sedap dipandang.

Domie terlongong.

Tapi tiga detik kemudian Zetta kembali masuk ke kamar itu.

“Elo ini tolol atau gimana sih, Dom? Elo tau enggak sih, Laudia itu siapa? Dia itu bintang sinetron! Artis! Seleb!”

Domie tersentak melihat betapa marahnya Zetta.

“Lalu elo ini siapa? Cuma anak guru, murid biasa, bukan siapa-siapa! Ngaca doooonk…!!!”

Memucat wajah Domie. Tapi sebelum ia bisa berkata-kata, mendadak Zetta sudah berlari meninggalkannya.

Domie tak tahu, di kamar yang lain Zetta tengah menangis tersedu-sedu menyesali nasibnya. Hatinya hancur lebur. Zetta tengah membayangkan betapa indahnya hidup ini jika ia yang akan menerima perhatian dan usaha yang begitu gigih dari Domie.

Domie memang tak pernah tahu bahwa selama ini Zetta begitu mengagumi dan mengharapkan cintanya..

=====================================================

Melodi Cinta Topan Dan Viela

“Kamu nggak usah bawa-bawa apel segala, martabak segala, Ibu tahu kamu suka sama Viela, tapi bukan dengan cara membeli saya, emangnya saya bisa ditukar sama martabak?”

“Mau ke mana, Pan?’ sergah Roni saat dilihatnya Topan buru-buru beranjak dari bangkunya.

“Lo kayak nggak tau aja, sebentar lagi malaikat cerewet itu nongol, mending gue nyari udara seger di luar. Ntar kalo ada yang bisa lo bantu, bantuin gue ya?”

“Enak aja lo!” sungut Roni.

“Kan lo temen gue yang baik.”

“Iya deh, iya. Gue tau lo di luar lagi ngincer Viela, kan? Moga-moga aja lo ditolak, biar minum racun serangga, lo!”

“Ha ha ha! Nggak mungkin Meeennn!” Topan buru-buru ngacir keluar.

Bukan cuma guru Killer itu yang jadi alasan Topan, tapi karena jam ketiga ini, Viela praktek olahraga, jadi Topan bisa ngegodain cewek itu dari jauh sambil ngeliat body-nya yang keren, kakinya yang mulus dan terutama senyumnya yang bikin Topan Puyeng itu.

Baru saja Topan sampe di lobby, anak anak kelas Viela baru saja berhamburan dari kelasnya, suara mereka berisik, seperti burung yang dilepas dari kandangnya. Topan celingukan nyari Viela, parkit lincah berkaki mulus yang punya senyum lebih legit dari brownies itu.

Nah itu dia….

“Eh, sempit tauk, enam juta penduduk Jakarta berjubel kayak ikan dalam kranjang….”

“Kayak petugas sensus aja, lo!” ketus Topan sama cewek gendut yang sengaja nabrak Topan dari belakang, sekretaris kelasnya Viela. Terang aja, Topan menghalangi jalan cewek itu yang gak mau ribet dihalang-halangi, yang katanya sih udah lama setengah mati diet buat ngurusin badannya.

“Liat-liat dong kalo jalan, orang segede aku gini kok gak kelihatan,” sengit Topan saat cewek gemuk itu masih berkacak pinggang di depannya.

“Eh, elo yang gak liat, celingak-celinguk… nyari siapa lo? Hmm, gue tau, lo mau lihat paha kita-kita kan.”

“Paha…? Paha siapa?”

“Paha sapi!”

“Emang paha lo gede kayak paha sapi!” Topan ngacir.

“Eh brengsek, gue smackdown lo baru tau rasa…!!”

Topan terus ngacir sambil ngetawain tuh cewek.

Tak jauh di depan, Viela lagi jalan gandengan sama teman-temannya. Jantung Topan berdebar kencang, inilah cewek yang membuat Topan berani mengorbankan pelajaran Bu Rani, guru Bahasa Indonesia yang galak banget bin cerewet itu. Daripada bete nerima pelajaran Bu Rani, mending nyari pemandangan seger di luar, begitu pikir Topan.

“Pan!” Arief tiba-tiba narik tangan Topan.

“Eh Rif, sorry, gue nggak ngeliat lo. Eh salam gue kemaren gimana?” Tanya Topan berbisik ke kuping Arif.

“O… salam lo….”

“Udah lo sampein, kan?”

“Udah, dia cuma senyum doang.”

“Senyum? Gak ada yang laen?”

“Gak ada, malah….” Arif ketawa.

“Maksud lo dia ngetawain gue?’

“Ntar gue sampein lagi yang serius deh….”

“Sialan lo!” Topan buru-buru ninggalin Arif, tapi saat berbalik, jantung Topan berdebar lagi dengan kencang saat melihat siapa yang sudah berdiri di depannya, dengan celana training yang pendek ketat. Dia menyapaku? Pikir Topan gembira.

“Viel….”

“Ada apa Pan, penting banget kayaknya…?’

Mmm… salam gue gimana?” tembak Topan langsung sambil mamerin senyum cute-nya dan tentu saja matanya yang penuh dengan cinta….

“Yang disampein Arif kemaren?”

“Mmm… iya.”

“Sementara gue tampung dulu ya, tunggu aja deh….”

“Kayak kotak saran aja ditampung dulu,” canda Topan sambil garuk-garuk kepalanya yang gak gatal, salah tingkah. Meskipun jawaban yang terlontar dari bibir mungil Viela kurang menyenangkan, tapi Topan menganggap itu masih lebih bagus daripada dicuekin. Saat Viela berlari-lari menuju lapangan, Topan masih bisa menikmati kaki bagus yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu, yang rambut panjangnya tergerai seakan berkata, “kejarlah daku topan… ntar kamu kujitak.”

***

“Topan….”

“Ya Bu…,” Topan kikuk, sebel.

“Kenapa kamu suka bolos kalau saya masuk?” Ibu Rani muncul, padahal bukan jam pelajaran dia di kelas Topan.

“Pelajaran saya tidak kamu sukai, katanya haree geneee masih belajar bahasa Indonesia, kan dari bayi udah bisa bahasa Indonesia. Iya, kamu yang ngomong begitu?”

“Nggak Bu, bukan saya.”

“Jadi siapa?”

“Roni, Bu, dia juga gak suka sama pelajaran Ibu.”

“Suka Bu, Topan fitnah!” balas Roni teriak.

“Ayo Topan, kenapa kamu tidak suka sama Ibu?”

“Dia lagi jatuh cinta, Bu. Sama anak dua A3, namanya Viela. Pas pelajaran Ibu mereka olahraga, Topan milih keluar melihat pemandangan alam katanya, Bu.”

Seisi kelas riuh menertawai Topan.

“Apalagi anak-anak dua A3 kalo olahraga hobi pake celana dan tank top ketat, Bu!” Tambah Muti yang udah lama diem-diem naksir Topan tapi nggak pernah direspon Topan.

“Jadi karena alasan itu kamu tidak suka pelajaran Bahasa saya? Ya Topan?” serang Bu Rani.

“Bukan begitu, Bu.”

“Katanya Ibu juga galak, mulut Ibu bawel!”

“Eh, kambing, lo!” ketus Topan.

“Muti, jaga mulutmu, ya!” pelotot Ibu Rani.

Seisi kelas tambah riuh.

“Mulai sekarang Ibu tidak mau lagi ada anak yang bolos di jam pelajaran Ibu, Cuma gara-gara naksir cewek, pelajaran diabaikan, mau jadi apa kalian, pacaran aja yang diurusin. Sebentar lagi Ibu masuk, kalian tunggu dan tak ada yang boleh kaluar! Ngerti?”

“Ngerti Buuu…!!!” jawab seisi kelas.

Topan garuk-garuk kepala, dia gagal kali ini ketemu Viela, dan terutama menghindari pelajaran Bu Rani.

***

“Pan… pan, elo mau traktir gue apa nih?” Roni yang baru abis dari kantin teriak-teriak mencari Topan.

“Ada apa Ron?” Tanya Topan penasaran.

“Traktir gue, pokoknya sampe kenyang!”

“Beres, tapi apa dulu dong?”

“Viela….”

“Kenapa Viela?”

“Tapi traktir gue, ya.”

“Beres, apa aja lo minta deh, pokoknya kalo soal Viela beres….”

“Salam lo diterima, Tanya Arif kalo nggak percaya, dia juga nyampein ke Arif, tapi karena gue temen sekelas lo, katanya biar lebih cepet, gue aja yang nyampein.”

“Hah… yang bener?”

“Katanya dia suka sama cowok kayak lo, cuek, cute, berani, ngocol, nekat, dan banyak deh komentarnya.”

“Ah… yang bener lo, Ron!?”

“Samber gledek lo sendirian, kalo gue bohong.”

“Jangan gue sendiri, bareng-bareng dong.”

“Terserah deh pokoknya, usul gue, lo tembak langsung aja, jeger! Jeger! Jeger! Pulang ntar lo barengin ya, sekalian janjian, ntar malam kan malam minggu. Kalo nggak lo bisa keduluan gue!”

“Jeger jeger, memangnya nembak celeng.”

Topan bangkit dari duduknya.

“Yessss!!!” teriaknya keras, sampe ludahnya berhamburan ke wajah Roni.

“Sialan lo Pan, hujan lokal nih.”

“Sori… sori, lo tunggu gue, gue traktir semuanya sekarang juga!” Topan lari keluar kelas.

Roni dan anak-anak yang sudah hadir di kelas langsung tereak kegirangan. Beberapa menit kemudian Topan muncul, dikira Topan bawa makanan enak seperti brownies kukus dan lemper isi abon dari kantin Bu Sarmila, gak taunya singkong, ubi, gemblong segede-gede sandal jepit yang biasa dijual di warung kopi Kang Jaja yang ada di luar sekolahan.

Kontan aja beberapa potong ubi goreng melayang di udara mengenai kepala Topan dan Roni.

Malam Minggu, Topan siap-siap apel. Viela bukan cuma nerima salam Topan, tapi juga udah nyuruh Topan datang malam Minggu. Dengan kemeja kotak-kotak biru, celana jeans sedikit belel, sepatu Cole cokelat kulit kanguru, Topan tampak keren dan macho. Topan dengan gembira melangkah keluar rumah, senyumnya cerah, seperti langit malam yang penuh dengan bintang-bintang.

Sampai di rumah Viela, dada Topan berdebar tak karuan, tapi sekuat tenaga berusaha ditentramkannya. Topan segera memencet bel di pintu pagar yang sedikit dipenuhi semak bunga bougenville. Beberapa detik kemudian muncul Viela, rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, dia memakai jeans sebatas lutut yang ketat dengan atasan T-shirt tak berlengan.

“Hai, Pan, yuk masuk!”

Topan melangkah masuk, debar jantungnya makin bertalu, tapi berusaha ditentramkannya.

Sehabis menyalakan lampu teras, Viela menyilakan Topan duduk.

“Bentar ya, Pan. Aku mandi dulu.”

“Loh, emangnya kamu belum mandi?”

“Belom, abis kamu kecepetan sih datangnya, baru aja jam tujuh.”

Topan melirik jam tangannya.

“O iya ya, masih sore….”

“Nggak pa pa sih, cuma kamu semangat banget ya kelihatannya, hi hi hi!” Viela terkikik geli.

Topan garuk-garuk kepala.

“Mau minum apa, Pan? Teh, kopi, atau mau yang dingin, atau air putih aja.”

“Mm… nggak usah repot-repot deh, air putih aja.”

“Wah kebetulan, emang adanya cuma air putih kok.” Masih sambil cekikik geli Viela lalu berlenggak-lenggok masuk ke dalam.

Topan garuk-garuk kepala lagi. Kena dia…

.

Nggak lama kemudian Viela muncul, udah ganti baju yang lebih rileks, nyante banget, Cuma wajahnya kini dipolesi bedak tipis dan bibirnya merah seger dipakaiin lipstick glossy. Topan terpana….

“Ngomong dong Pan, kok jadi salah tingkah kelihatannya?”

Topan yang biasanya jago ngocol masih terus salah tingkah, bibirnya bingung mo bicara apa yang enak. Tapi alangkah kagetnya Topan saat kemudian muncul pembantu membawa nampan berisi dua gelas air putih dan menyilakannya untuk minum yang dihidangkannya.

“Trima kasih ya, Ma. Kok cuma air putih Ma, kue-kuenya mana?”

Sekujur tubuh Topan kejang-kejang. “Bu Rani….”

“Masih mending air putih, bisa dipake dukun buat ngobatin orang, untung nggak Mama kasih racun serangga sekalian tadi.”

“Ih Mama, jahat banget….”

Bu Rani dengan bergaya pembantu lalu balik ke dalam.

Viela tersenyum geli.

“Ayo Pan, diminum, kenapa?”

“Mm… gue… gue pulang aja deh, Bu Rani… Bu Rani itu nyo….”

“Lo, emangnya kamu nggak tau kalo Bu Rani Nyokap gue?”

Topan geleng-geleng kepala. “ Nggak… gue baru tau sekarang. Sumpah, samber gledek bareng-bareng….”

“Ya udah, nyokap gue baek kok orangnya….”

“Bukan begitu Viel, tapi gue….”

“Gue ngerti, kamu sebel banget sama pelajarannya kan, juga orangnya kan?”

“Viel, jadi kamu membalas salam gue dan nyuruh datang malam Minggu supaya gue dikerjain sama nyokap kamu, terus supaya besok-besok gue nggak nakal lagi dan Nyokap kamu jadi nggak repot lagi ngurusin anak bandel kayak gue?”.

5“Doo… yang perasaan, bukan begitu maksudnya Pan. Kamu gue suruh ke mari malam Minggu karena kamu cowok istimewa buat gue. Soal Bu Rani yang lo sebelin itu kebetulan nyokap gue, kan cuma kebetulan doang. Sekarang tinggal kamu, gimana menurut kamu persoalan kita, kamu suka tantangan, kan?”

Topan diam sesaat. “Tantangan apa dulu, kalo ditantang Chris Jhon sih gue nyerah,” Topan berusaha bercanda.

“Ya ngambil hati nyokap gue, dong.”

Topan berdiri. Viela terlihat kecewa.

“Salam deh buat Bu Rani, malam Minggu depan kalo gue apel lagi, gue bawain apel.”

“Jangan cuma apel, Pan. Martabak keju kesukaan nyokap gue juga….”

“Mmm… iya deh.” Pantesan Bu Rani gendut, demen martabak keju sih, pikir Topan dalam hati ngedumel.

Dan malam Minggu yang indah pun berlalu, tapi juga malam yang bikin Topan serba salah. Tadi Topan maunya pulang agak maleman, tapi Topan ngeliat Bu Rani sering ngintip dari gorden pembatas ruangan, matanya melotot galak.

***

Topan berubah jadi cowok paling kalem sedunia sejak dia sadar kalau Viela adalah anak Bu Rani yang disebelinnya, biarpun Topan udah kalem dan selalu hadir nomer satu di pelajaran Bu Rani, tetap saja dia harus mengambil hati Bu Rani, caranya udah dijalani Topan dengan membawa sekeranjang apel New Zealand dan martabak keju, juga martabak telor. Eh itu malah bukannya membuat Bu Rani senang, tapi dianggapnya sesuatu yang melecehkan baginya.

“Kamu nggak usah bawa-bawa apel segala, martabak segala, Ibu tahu kamu suka sama Viela, tapi bukan dengan cara membeli saya, emangnya saya bisa ditukar sama martabak?”

Topan cuma diam.

“Kalau kamu tahu, sejak SMP Viela sebenarnya sudah saya jodohkan.”

“Dijodohkan Bu, sama siapa? Sama saya?” Topan tersentak.

“Sama kamu? Anak nggak pintar kayak kamu kok mau dijodohin sama anak saya.”

“Jadi mau dijodohon sama siapa, Bu?” Tanya Topan hati-hati.

“Mau tau aja!”

Bu Rani juga selalu melirik Topan kalau dia melihat Topan sedang menunggu Viela di depan kelas. Jalan ke kantin, pulang bareng, semua ulah Topan dicurigai. Topan jadi pusing. Menunggu Bu Rani pensiun masih lama, dipindahin sama pemerintah ke Papua, nggak mungkin. Coba kalo gue dulu gak sebel sama Bu Rani, mungkin nggak begini jadinya, sesal Topan. Meskipun Bu Rani kelihatannya baik, dan agak suka becanda, tapi batinnya, Topan ngerasa dia menolak keras, nggak nerima anaknya dipacarin, apalagi lewat jalan belakang.

“Pan!” tiba-tiba Roni menepuk bahu Topan dari belakang.

“Topan kaget, disikutnya perut Roni. “Ganggu gue aja lo, sono,” hardiknya.

Lalu Roni cekikikan melihat buku Bahasa Indonesia Topan yang disampul rapi banget, kayak buku anak kelas 1 SD.

“Kusut amat lo Pan. Udah deh, lo cari aja cewek laen, Viela emang cakep, tapi nyokapnya. Gue heran, Viela cakep, nyokapnya kok ancur. Bokapnya kali keren, ya, Pan?”

“Nggak tau gue, gue nggak pernah ketemu bokapnya.”

“Kalo lo nyium Viela, terus kebayang bibir Bu Rani yang lebar itu, sama aja nyium bibirnya Bu Rani, lo.”

“Brengsek, lo, Ron.”

Roni cekikikan.

Tiba-tiba Viela muncul di depan pintu, tersenyum. “Gue denger apa yang kalian omongin. Ntar malam Minggu ke rumah ya Pan, ada hal penting yang mo gue omongin.”

“Soal apaan Vi?”

“Sekarang apa ntar malam?”

“Sekarang aja deh,” desak Topan.

“Oke… dengerin ya. Bu Rani itu sebenarnya bukan nyokap kandung gue, dia Ibu angkat gue.”

“Maksud lo?”

“Maksudnya lo nggak usah lagi mikirin Bu Rani meskipun dia nggak suka sama lo, gue sendiri suatu saat nanti akan nentukan masa depan gue sendiri, kebetulan aja Bu Rani jadi nyokap gue, tapi dia memang baik dan sayang banget sama gue, udah bikin gue segede ini, seksi lagi.”

“Lantas nyokap kandung kamu di mana?” Tanya Roni penasaran.

“Gue anak adopsi.”

“Adopsi dari mana?” kejar Roni lagi, sementara Topan masih nggak percaya kalau Viela yang dicintainya nggak jelas asal-usulnya.

Viela tertunduk, wajahnya tiba-tiba sedih, Topan dengan prihatin mendekati Viela dan membelai rambutnya. “Maafin Roni, Viel. Dia kalo nanya nyeplos aja.”

Viela menggeleng. “Nggak apa apa kok, Pan. Nyokap pernah cerita, yang ngelahirin gue seorang Ibu kurang mampu, Ibu itu nggak punya uang buat nebus biaya melahirkan, seminggu setelah melahirkan, katanya dia pergi minjam uang ke saudaranya dan menitipkan anaknya sementara di rumah sakit, tapi kemudian dia nggak pernah balik lagi ke rumah sakit. Terus gue diambil Bu Rani. Kata suster di rumah sakit, perempuan yang ngelahirin gue cakep, terbukti kan, gue cantik….” Viela berusaha tersenyum.

Topan juga tersenyum, kembali dibelainya rambut Viela. Kalau cuma Bu Rani penghalang mencintai Rani, kecil, nggak ada apa-apanya, tegas Topan dalam hati, tapi Bu Rani kan udah berjasa ngebesarin Viela, lagian kasihan Bu Rani, sampe sekarang dia belum menikah juga, padahal umurnya udah hampir lima puluh tahun. Tiba-tiba terbersit rasa kasihan yang dalam di hati Topan kepada Bu Rani, sementara cinta dan kasih sayang yang dirasakan Topan kepada Viela pun tambah menggunung, dan Topan ingin selalu melindunginya setiap saat.

“Topan!” Bu Rani tibatiba sudah berdiri di antara mereka, matanya melotot.

Topan gugup.

“Gue gak ikutan!” Roni langsung menjauh.

Tapi Topan segera menangkap tangan Bu Rani dan menciumnya. “Topan janji akan menjaga Viela Bu, Topan nggak akan bolos lagi, Topan juga mau kalau dijadikan anak angkat Bu Rani, Topan senang sama pelajaran Bu Rani….”

Bu Rani menarik-narik tangannya tapi Topan terus menciumnya, hingga akhirnya Bu Rani Luluh dan membiarkan tangannya diciumi Topan, sementara Viela tersenyum senang, Topan pasti bisa mengambil hati Bu Rani, mamaku tersayang, yakin Viela dalam hati sambil menahan senyum melihat ulah Topan yang masih terus menciumi tangan Mamanya.

Nah itu dia sob artikel saya tentang  Kumpulan Cerpen Cinta Romantis 2012 yang semoga dapat berguna dan bermanfaat buat sobat semua. 

10out of 10 based on 99898 ratings. 1 user reviews.

Incoming search terms:

  • ceritapendekdijodohkan
  • cerita cinta remaja romantis
  • cerpen2 cinta terbaru
  • cerpen rio ify dijodohkan
  • kumpulan cerpen romantis
  • rio ify cium
  • Cerita romantis anak- anak muda
  • cerpen ify sedih surat cinta
  • kumpulan cerita mesum remaja
  • Kumpulan Cerpen Cinta

Related Posts